Belajar Memaknai Hayati Lewat Filosofi Rajutan

“Saya ini perempuanbiasa, akan tetapi kebetulan senang .”

~ kutipan Monolog Luna Vidya dimalam terakhir Festival Kala Monolog IV

Menjadi bahagia itu sederhana. Tak perlu sebagai orang hebat atau luar biasa untuk sebagai senang . Bahagia juga tidak mesti menggunakan segala hal yg identik menggunakan kemewahan. Bahagia itu tidak ribet, bahagia itu tidak mahal dan bahagia itu tak perlu jauh-jauh. Katon Bagaskara mengungkapkan “senangitu homemade”. Saya setuju. Bahagia itu kita yang membuatnya.

Sebagai seseorang wanita yang sedari kecil sangat aktif dan selalu menyibukkan diri menggunakan banyak sekali aktivitas, aku sangat beruntung dikarunia famili yang sangat mendukung seluruh aktifitas aku. Ketika gw masih remaja dan kuliah pada salahsatu perguruan tinggi pada kota Makassar, sangat sering aku pulang ke tempat tinggalketika hari sudah larut. Sebagai anak muda yg penuh semangat dan misalnya tak pernah kehabisan energi, semua hal ingin coba saya lakukan. Mulai menurut kursus dansa klasik, olahraga softball, kursus bahasa Spanyol, magang pada perkantoran dan sebagainya. Hingga saya menikah dan mempunyai seseorang anak, aku permanen tak sanggup berdiam diri tanpa suatu kesibukan. Bekerja di tempat kerja, ikut kegiatan sosial, ikut kepanitiaan suatu event, belajar merajut, menulis & masih poly lagi. Bagi aku, bahagia itu jika saya permanen sanggup melakukan hal-hal yang ingin gw lakukan.

Setiap orang mempunyai caranya masing-masing pada memaknai kehidupannya. Tujuannya bisa jadi sama, yakni menjadi bahagia. Tetapi setiap individu memiliki jalannya sendiri-sendiri untuk mencapai kebahagiaan tadi. Konon, bahagia itu bisa menular. Bila kita sedang bahagia, umumnya aura kebahagiaan itu jua tertularkan kepada orang lebih kurang kita. Sebagai seorang perempuanyang biasa-biasa saja, saya merasa bahagia dengan kehidupan saya waktu ini. Kebahagiaan yg ingin gw bagi kepada banyak orang lewat sebuah kisah sederhana yg coba saya jabarkan lewat filosofi merajut, sebuah hobi yg tengah saya tekuni saat ini. Memang aku belum begitu mahir pada merajut & belum begitu poly yang bisa aku hasilkan. Namun ada banyak hal yang saya pelajari dari aktivitas merajut ini.

Saya melihat filosofi hayati itu misalnya belajar merajut. Pertama, saat belajar merajut, terdapat beberapa hal yg perlu kita ketahui sebagai dasar tusukan buat membuat bermacam-macam karya. (Disini aku mencoba menjelaskan menggunakan memakai kata berdasarkan crochet atau biasa jua dianggap menggunakan merenda, jenis rajutan yg menggunakan satu jarum menggunakan ujung yg membengkok). Tusukan dasar yg perlu kita pelajari adalah single crochet (sc), double crochet (dc), half-double crochet (hdc), slip-stich (ss), dan chain (ch). Jika sudah menguasai tusukan dasar ini, selanjutnya mampu dikembangkan lewat teknik merajut menggunakan mengkombinasikan beberapa jenis tusukan buat hasil yg lebih menarik. Demikian jua dengan hidup. Kita perlu mengetahui beberapa hal dasar sebagai fondasi buat melakukan aktifitas keseharian seperti memiliki dasar agama yg bagus, etika yg baik, toleransi & empati terhadap sesama. Alangkah indahnya hidup jika masing-masing orang mampu dengan baik menyelaraskan dasar hidup tadi kedalam tingkah lakunya sehari-hari.

Yang ke 2, terdapat perajut yg bahagia membaca pola pada membuat suatu karya rajutan namun ada juga yang lebih senang berkreasi sendiri tanpa pola. Manusia pun demikian. Ada yang senang menjalani hidupnya dalam keteraturan, terdapat jua yg memilih mengisi hidupnya dengan ‘kejutan-kejutan’ tertentu. Apapun cara yang ditempuh tentunya terserah manusianya, yang krusial tujuannya sebagai senang . Filosofi ketiga, dalam merajut terdapat beragam jenis benang yg berbeda. Ada benang polos, ada benang bura, ada jenis polyster, nylon, katun, bulky, lokal juga impor. Masing-masing orang bebas memakai jenis benang yang diinginkan pada karya rajutannya. Si A misalnya ingin memakai benang katun lokal polos buat membuat kembang, si B menggunakan polyster biru buat tas, si C menggunakan benang bulky buat membuat kupluk dan seterusnya. Apapun benang yg dipakai, hasilnya permanen dianggap menjadi rajutan. Sebagai makhluk hayati, kita diciptakan olehNya pun dengan keragaman unik yang tidak selaras satu menurut yang lain. Beragam suku, budaya, istiadat, bahasa, agama, dan latar belakang manusia yang berbeda membuat semakin kaya pergaulan kita dan nir terus-menerus.

Belajar Merajut

” data-image-description=”” data-image-meta=””aperturedanquot;:”0″,”creditdanquot;:””,”camera”:””,”caption”:””,”created_timestampdanquot;:”0danquot;,”copyrightdanquot;:””,”focal_length”:”0″,”isodanquot;:”0″,”shutter_speeddanquot;:”0danquot;,”title”:””” data-image-title=”Merajut” data-large-arsip=”https://nyomnyom.files.wordpress.com/2012/06/rajut.jpg?w=500″ data-medium-arsip=”https://nyomnyom.files.wordpress.com/2012/06/rajut.jpg?w=300″ data-orig-file=”https://nyomnyom.files.wordpress.com/2012/06/rajut.jpg” data-orig-size=”960,731″ data-permalink=”https://nyomnyom.wordpress.com/2012/06/05/belajar-memaknai-hidup-lewat-filosofi-rajutan/rajut/” height=”228″ loading=”lazy” sizes=”(max-width: 300px) 100vw, 300px” src=”https://nyomnyom.files.wordpress.com/2012/06/rajut.jpg?w=300danamp;h=228″ srcset=”https://nyomnyom.files.wordpress.com/2012/06/rajut.jpg?w=300&h=228 300w, https://nyomnyom.files.wordpress.com/2012/06/rajut.jpg?w=600&h=456 600w, https://nyomnyom.files.wordpress.com/2012/06/rajut.jpg?w=150danamp;h=114 150w” title=”Merajut” width=”300″>Belajar Merajut

Hal keempat yg gw pelajari menurut merajut merupakan kesabaran, ketekunan dan selalu belajar dari kesalahan. Sebagai seseorang pemula pada global merajut, awalnya saya relatif kesulitan buat mengait-aitkan benang tersebut. Saya pun tak jarang geregetan sendiri apabila benang tersangkut pada jarum yg mengakibatkan gw mesti mengulangi lagi. Belum lagi gw acapkali lupa hitungan dasar rajutan saya yang membuat hasilnya kurang seimbang. Namun perlahan, berkat ketekunan pada memeriksa rajutan, aku berhasil mengaitkan benang menggunakan cukup lincah tanpa harus tersangkut pada jarum. Kesalahan-kesalahan kecil yang saya lakukan menciptakan gw jadi tahu cara yg paling pas buat saya dalam memegang jarum dan merajut. Dalam kehidupan, kesabaran, ketekunan dan tidak malu belajar berdasarkan kesalahan sangat diharapkan buat mencapai cita-cita yang ingin diraih. Yang paling krusial adalah prosesnya, bagaimana kita belajar berdasarkan proses tadi untuk memperoleh output yg memuaskan.

Yang kelima adalah merajut mengajarkan kita buat menghargai buatan tangan atau handmade. Seorang perajut yang membuat suatu karya rajutan dan lalu diberikan pada seseorang sebagai kado nilainya jauh lebih besardaripada sekedar membeli sesuatu di toko yg protesis pabrik. Lantaran pada sebuah karya protesis tangan, mengalir kasih sayang dan cinta yang dirajut dengan benang yg dipilih khusus buat seseorang yang akan diberikan sebagai kado. Saya menyebutnya dengan ‘dirajut menggunakan cinta’. Demikian juga sekiranya pada menjalani interaksi dengan seorang, kita perlu sesuatu yang ‘organik’, alami, nir dibentuk-untuk dan tentunya spesial.

Yang terakhir, merajut itu sanggup dilakukan oleh siapa saja. Terkadang poly orang mengidentikkan merajut menjadi aktivitas wanita berumur. Padahal, bila menyelidiki sejarahnya dimana dari mulanya merajut itu justru dilakukan oleh kaum lelaki penghasil permadani di jazirah Arab. Sekarang ini, terutama di kota-kota akbar, dunia merajut tidak melulu didominasi oleh kaum wanita. Banyak  komunitas perajut yg pula memiliki anggota kaum lelaki yg aktif dalam membuat karya rajutan. Ini mengajarkan kita buat tidak mengkotak-kotakkan susuatu menggunakan identitas tertentu dan peng-stereotype-an jender. Dalam kehidupan berkeluarga pun demikian. Tidak terdapat yg namanya pekerjaan domestik hanya dilakukan oleh kaum perempuan, atau lelaki tidak boleh menangis. Setiap manusia, tidak peduli jenis kelaminnya, berhak buat mengekspresikan kegembiraannya, kesedihannya, kebahagiaannya dengan cara yg dia inginkan. Setiap orang merdeka buat melakukan apa yg dia ingin lakukan, mewujudkan impiannya, & bahkan bebas buat menentukan yang mau dia kerjakan.

Dan yang penting merupakan jangan pernah berhenti belajar. Dalam merajut, terdapat bermacam-macam teknik tusukan yg mampu dipelajari. Setiap ketika ada modifikasi baru yg timbul & memberikan variasi tersendiri dalam rajutan. Misalnya ada teknik merajut granny square, basket wave, tusuk kerang, & sebagainya. Hidup juga harus demikian. Kita senantiasa harus terus belajar menurut siapapun & menurut apapun yg kita kerjakan tentunya menggunakan asa agar nir mengulangi kesalahan yg sama dan mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *