Peluang Bisnis Entrepreneur – Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Kemampuan merajut sekarang mampu sebagai huma bisnis yg cukup menjanjikan. Berbekal kreativitas, aktivitas tadi mampu membentuk beragam produk unik dan bernilai jual.

Keterampilan merajut menjadi keahlian generik yg dimiliki wanita di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal itulah yg kemudian menjadi inspirasi Dewi Prasti buat membangun usahanya.

Wanita yg sekarang tinggal pada Magelang, Jawa Tengah itu bercerita, semasa kecil waktu dia masih tinggal di kampung ibunya, Kecamatan Sentolo, dia melihat banyak sekali perajin tas rajut berbahan dasar serat flora maupun benang. Pada ketika itu, hampir sebagian makrumah tangga mengisi waktu dengan merajut sekaligus menambah pundi-pundi rupiah.

Hasil kerajinan itu lalu diserahkan kepada pengepul atau pengusaha lokal buat dijual. Mereka menerima upah sinkron menggunakan hasil yg dikerjakannya. Hal tersebut lantas memotivasi Dewi untuk menyelidiki teknik rajut sekaligus cara memasarkannya. Pasalnya, beliau melihat poly perajin yang terkendala dalam hal pemasaran.

Dewi kemudian mendirikan usaha rajutan yang diberi merek Bagtage buat tas rajut & Hammockshoes buat sepatu rajut dalam 2015 silam. Bisnis yang dijalankannya menggunakan sistem pre-order.

“Bersama menggunakan Hermawati, rekan gw, kami melihat ini menjadi peluang & akhirnya kami menentukan media sosial buat menjaring minat konsumen pada produk rajutan karya pengrajut lokal.”

Memulai pemasaran menurut pelaksanaan BBM dan Facebook, dia kemudian mem-posting produk rajut output karya ibu di kampung buat dipromosikan. Kini, tak hanya via BBM dan Facebook, Dewi & rekannya, Herma, lebih gemar memanfaatkan Instagram buat media pemasaran.

Selain itu, pula memasarkan produknya secara pribadi, baik door to door, bekerja sama menggunakan toko maupun reseller.

Pada awalnya, dia sempat mengalami hambatan kesulitan memasarkan produk. Dia juga pernah kena tipu karena produk yg dititipkan di toko kerajinan tidak kembali sehingga merugi sampai jutaan rupiah.

Tak hanya itu, produk rajut yg dia jual jua pernah dihargai dan ditawar rendah karena disamakan menggunakan produk yang dijual pada pasar-pasar, padahal bahan yang digunakan adalah bahan pilihan berkualitas.

“Ini menjadi tantangan tersendiri, bagaimana menaruh pemahaman pada konsumen bahwa ada tangan-tangan kreatif yg penuh dengan dedikasi untuk membuat satu produk rajut dan mereka perlu kita hargai. Semangat inilah yang mendorong kami buat terus belajar taktik marketing.”

Dewi menuturkan, bahan standar yang dipakai selalu berkualitas. Beberapa bahan bakunya berasal dari serat tanaman& benang. Mulai berdasarkan serat agel, pelepah pisang, eceng gondok, pandan, mendong, hingga rotan. Bahan standar benangnya ada jenis gun, katun, polly, dan nilon.

Produk awal yg dipasarkan merupakan output kerajinan mak-makpada daerahnya. Selanjutnya, Dewi juga mendesain sendiri produknya dengan mengkolaborasikan beberapa bahan buat dikerjakan oleh bunda-ibu pada kampung.

Seiring menggunakan perkembangan & menyesuaikan tagline yang diusung yakni Create Your Own Bag on Bagtage, dia mencoba menunjukkan konsep kepada konsumen buat menciptakan desain sendiri, warna, dan ukuran sinkron dengan kebutuhan.

“Hal inilah yg lalu menciptakan konsumen berdatangan lantaran mereka mampu custom produk rajut tanpa image produk pasaran. Jadi produk rajut yg mereka miliki adalah output rancangan sendiri.”

Sejak awal mendirikan Bagtage dan Hammockshoes, sasaran pelanggan yg dituju adalah kalangan menengah dan menengah ke bawah seiring menggunakan tujuannya buat menyediakan produk berkualitas yang ramah pada kantong.

“Jadi, meskipun harga ramah di kantong, kami tetap ingin menyajikan kualitas. Bahan standar dan proses pengerjaan maupun finishing kami untuk sehalus & sebagus mungkin agar produk virtual konsumen nir mengecewakan.”

Dibantu tiga perajin khusus buat merajut tas, & perajin sepatu, bisnis Dewi mulai menerima sambutan hangat berdasarkan pelanggan. Kini, produk Bagtage dan Hammockshoes juga diminati kalangan mahasiswa, karyawan partikelir, dan bunda muda.

Untuk pasar internasional, beliau jua pernah mengerjakan pesanan berdasarkan Malaysia, Singapura, & Jepang. Dewi menuturkan, dari sekian banyak produk tas rajut yang dihasilkan, slingbag & backpack menjadi pilihan konsumen & sering dipesan. Untuk sepatu, konsumen poly memesan flatshoes dan boots rajut.

“Selain unik, sepatu rajut yang kami jual dievaluasi lebih fleksibel dipakai pada seluruh kegiatan, baik formal juga informal.”

Terkait harga, Dewi membanderol tas rajut pada kisaran Rp100.000—Rp500.000, sedangkan buat sepatu rajut mulai harga Rp80.000—Rp300.000. Setiap bulan dia berhasil menjual tiga sampai 10 produk, baik tas maupun sepatu dan menerima omzet paling tidak puluhan juta perbulan.

Tulisan ini sudah pernah tayang di Bisnis Indonesia Weekend edisi 14 April 2019

Simak berita lainnya seputar topik

artikel ini, pada sini :

peluang bisnis

Konten Premium

Nikmati Konten Premium Untuk Informasi Yang Lebih Dalam

Masuk / Daftar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *