Lebih Menentukan Memelihara Anjing Ketimbang Punya Anak, Apakah Termasuk Egois?

Paus Francis, baru-baru ini menyulut reaksi negatif menurut pers dan media sosial terkait pernyataan kontroversialnya. Asal usul dari pernyataannya adalah adanya penurunan angka kelahiran di poly negara Barat yg menurut kuesioner, ditimbulkan oleh banyaknya keluarga yang memilih buat tidak punya anak.

Tidak sampai di situ, beberapa riset jua menyatakan bahwa wanita milenial cenderung menentukan punya peliharaan anjing atau kucing daripada punya anak. Kecenderungan seperti ini, dari Paus Francis, merupakan suatu bentuk tindakan yg egois.

Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah program di Vatikan, Roma, saat mendiskusikan soal parenting. Ia menyebut bahwa sikap nir menginginkan anak merupakan suatu bentuk keegoisan. Terkadang, beberapa memiliki seorang anak, namun menggantinya dengan peliharaan kucing dan anjing.

Ini bukan pertama kalinya Paus Francis mengutuk orang yg menentukan fauna peliharaan daripada seseorang anak. Pada 2014, dalam sebuah wawancara, sang Paus ditanyai apakah beliau percaya bahwa masyarakat lebih menghargai hewan peliharaan ketimbang anak insan. Ia menjawab bahwa ini adalah fenomena yg merefleksikan degenerasi budaya. Menurutnya, menciptakan interaksi emosional menggunakan binatang lebih gampang & bisa diatur, sementara memiliki anak adalah sesuatu yang kompleks.

Gereja Katolik & perspektifnya terhadap hewan mempunyai jejak historis yg tak akur. Kebangkitan Kristiani mengantarkan pada kepercayaanbahwa binatang misalnya anjing tak layak menerima perlakuan istimewa dan tak akan masuk nirwana. Ajaran Kristiani tradisional mengungkapkan bahwa anjing & hewan lain tidak mempunyai kecerdasan dan pencerahan, sama misalnya batu atau tumbuhan. 

Dalam bahasa Latin, kata anima merupakan akar menurut animal (bahasa Inggris buat hewan) yang berarti “jiwa.” Padahal, berdasarkan doktrin religius pada ketika itu, setiap makhluk yang mempunyai pencerahan pula memiliki jiwa serta bisa merasakan cinta & sang karenanya, harus diperlakukan secara manusiawi. Ide bahwa hewan mempunyai jiwa tidak mampu diterima sang gereja Kristen waktu itu.

Bertahun-tahun lalu, pihak gereja mencari pembenaran atas klaimnya dengan mengambil gagasan para filsuf & ilmuwan ketika itu, termasuk Rene Descartes. Descartes mendeskripsikan hewan selayaknya sebuah mesin yang diisi menggunakan elemen-elemen biologis.

Terkait menggunakan pernyataan Paus Francis, media umum kemudian dibanjiri menggunakan komentar yang dominan mengutuk perspektif oleh Paus. Salah satu yg paling poly diutarakan merupakan kenyataan bahwa para rahib Katolik, biarawati, & Paus sendiri, yg menggunakan sengaja mengambil keputusan nir memiliki anak sangat kontradiktif menggunakan pernyataan yang dibuatnya.

Kritikan lain menyorot saran oleh Paus buat mengadopsi anak bagi mereka yang nir sanggup memilikinya. Saran ini dievaluasi problematis lantaran dominan agen penyedia anak-anak adopsi menurut gereja Katolik menerapkan larangan bagi keluarga non-tradisional (famili LGBT) buat mengadopsi anak. Oleh karena itu, fauna peliharaan jadi satu-satunya pilihan bagi mereka yang hendak memenuhi kebutuhan psikologisnya.

Dalam Psychology Today, Stanley Coren, seorang profesor psikologi pada Universitas British Columbia, menyayangkan sikap oleh Paus. Lebih tepatnya, dia menyayangkan perkiraan sang Paus bahwasannya cinta itu terbatas kuantitas. Bahwa mencurahkan cinta dalam makhluk misalnya anjing, dapat mengurangi rasa cinta insan dalam sesamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *